• Juni 2, 2024

Permainan Game Terkini Merupakan Detroit, Become Human Rasa Dari Kemanusiaan Dengan Dari Android

Game eksklusif PlayStation 4 ini adalah ilustrasi kehidupan 20 tahun mendatang versi Detroit: Become Human. Berkat revolusi artificial intelligence, android (mengacu pada robot dengan penampilan manusia, bukan cara operasi telepon genggam) mengisi semua lini kehidupan mulai mengasuh anak, menjadi penjaga kios, tukang bersih-bersih got, sampai pekerja seks. Intinya, apa yang manusia kerjakan, mereka bisa lakukan.

Hampir semua orang bisa membeli slot777 android. Jenis pekerja domestik keluaran teranyar dibanderol 7999 dolar AS, sepadan Rp 111,5 juta–dan bisa diangsur. Dia mengobrol dalam bermacam-macam bahasa dan dialek, pintar memasak, sampai menuntun tugas sekolah anak. Sementara yang jenis lawas dikorting jadi 688 dolar AS atau Rp 9,5 juta–lebih murah dari motor bebek jenis paling bontot di Jakarta hari ini.

Sutradara David Cage dan krunya di sanggar Quantic Dream membuktikan hari-hari manusia dua puluh tahun ke depan dengan: “Leyeh-leyeh di depan teve, sementara android mencuci piring, membersihkan lantai, membenahi kamar, dan menyiapkan makan malam.”

Beberapa orang memperlakukan android seperti keluarga, tapi banyak juga yang menganggap mereka budak. Tanpa disadari, para android itu mengalami perkembangan emosional. Mereka menikmati hal-hal yang tak diprogramkan, seperti takut, naik darah, dan cinta. Di tengah kebingungan dan keputusasaan, mereka bahkan mulai mengkultuskan zat yang gaib dan menentang. Publik melabeli mereka dengan deviant alias penyimpang.

Pada November 2038, kasus penyimpangan meningkat drastis. Ada yang kabur, menjalankan tindak kekerasan, sampai membunuh majikannya. Persepsi publik kepada android kian negatif sebab dikala itu pengangguran mencapai tingkat tertinggi di Amerika Serikat, 35 persen–jauh di atas rata-rata dikala ini, 4 persen. Lapangan kerja disesaki android, yang sanggup berprofesi siang-malam sonder upah dan makan.

Di Detroit: Become Human, yang dirilis akhir bulan lalu, kita bermain dengan kacamata tiga android: Connor si pemburu penyimpang, Kara si asisten rumah tangga, dan Markus si pemimpin pergerakan. Mereka berada di setting yang sama, Detroit–dikisahkan sebagai kota sentra produksi android–, November 2038.

Dari ketiganya, nampak proses suatu (di game ini lebih tepat disebut seorang) android menjadi deviant. Kara, seumpama, diperintahkan “diam”, dikala majikannya memukuli putrinya sendiri, Alice. Ketimbang mematung, “nurani” Kara mendobrak program perintah itu, menolong Alice, dan kabur dari ayah pemadat hal yang demikian.

Bagaimana akhir pelarian Kara dan Alice, Anda yang memutuskan. Kaprah-kaprah seperti novel “pilih sendiri petualanganmu” yang naik daun pada permulaan 1990-an. Tiap alternatif, atau salah memijit tombol dikala quick-time events, akan memutuskan nasib karakter Anda. Mati, ya mati. Tidak ada “Game Over”. Cerita akan berlanjut dengan karakter yang tersisa.

Quantic Dream, yang berbasis di Prancis, memang terkenal dengan game berbasis interactive story, seperti Heavy Rain yang populer pada 2010. Sesudah merilis Beyond: Two Souls pada 2013, konsentrasi mereka dicurahkan untuk Detroit.